Senin, 18 Agustus 2025

Akal Sehat vs. Logika Absurd: Menelanjangi Nihilisme dalam Pemikiran yang Sok Rasional

 Akal Sehat vs. Logika Absurd: Menelanjangi Nihilisme dalam Pemikiran yang Sok Rasional

Dalam lanskap debat publik yang semakin riuh, kita kian sering menemukan sosok yang tampil meyakinkan, penuh jargon ilmiah, dan mengklaim diri sebagai rasionalis sejati. Sayangnya, yang kerap muncul justru adalah rasionalisme semu yang menjerumuskan akal ke dalam jebakan nihilisme dan logika absurd. Salah satu contohnya dapat kita temukan dalam pernyataan-pernyataan Ryu Hasan, yang di mata sebagian orang mungkin terdengar “intelektual”, namun jika dikaji lebih dalam, ternyata penuh kontradiksi dan merusak akal sehat.

Dalam sebuah videonya, Ryu Hasan mengatakan bahwa:

“Dalam kehidupan ini tidak ada baik, tidak ada buruk. Enggak ada nilai dalam kehidupan. Yang ada cuma konsekuensi.”

Pernyataan ini menegaskan nihilisme moral—sebuah pandangan yang menolak keberadaan nilai-nilai objektif. Di satu sisi, ia ingin tampil netral dan ilmiah, seolah mengamati dunia dengan dingin. Namun pada sisi lain, pernyataan ini justru tidak netral sama sekali, karena ia mengklaim sebuah nilai (yakni: “nilai itu tidak ada”) sebagai kebenaran absolut. Ini adalah kontradiksi.

Jika nilai baik dan buruk dianggap tidak ada, lalu atas dasar apa seseorang bisa menyebut tindakan intoleransi atau pembunuhan itu “berbahaya”? Jika semua hanyalah konsekuensi, mengapa kita masih menghargai kemanusiaan, keadilan, dan kebaikan?

Lebih lanjut, analogi Ryu Hasan tentang harimau yang memakan kambing juga mengandung kekeliruan logika yang mendasar. Harimau tidak punya kesadaran moral; manusia punya. Membandingkan perilaku manusia dengan binatang adalah bentuk reduksionisme biologis yang menyesatkan. Jika semua tindakan manusia dianggap netral secara moral, hanya karena manusia adalah “produk biologis”, maka penjajahan, genosida, dan perbudakan pun akan kehilangan makna buruknya.

Pernyataan seperti ini bukanlah bentuk keberanian berpikir, melainkan kemalasan intelektual yang dibungkus dalam jargon “rasional”. Padahal, akal sehat manusia tidak sekadar menghitung konsekuensi, tetapi juga menimbang nilai. Dalam pandangan Islam, akal justru adalah alat untuk memahami nilai-nilai moral dan wahyu, bukan untuk membongkar atau menggantinya.

Maka, logika semacam ini perlu dibongkar—bukan dengan kemarahan emosional, tetapi dengan ketegasan nalar dan keberanian membela akal sehat. Sebab, jika nihilisme dianggap keren, maka yang terancam bukan hanya agama, tetapi juga kemanusiaan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Semua Harus Jadi Tanggung Jawabmu: Cerita dari Seorang yang Capek Sendirian

Pernah merasa semua orang di sekitarmu gak becus?? Bahkan pasangan, anak, atau rekan kerja yang seharusnya bisa diandalkan, malah bikin ke...