Senin, 18 Agustus 2025

Ketika Emas Menggugurkan Sangka: Pelajaran Imam Syafi’i tentang Ilmu dan Harta

 

Ketika Emas Menggugurkan Sangka: Pelajaran Imam Syafi’i tentang Ilmu dan Harta

Angin pagi menyapu lembut halaman masjid Madinah. Di salah satu sudutnya, duduk seorang pemuda kurus berwajah cemerlang, matanya tajam, lisannya fasih—Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Kitab-kitab tua menemaninya, seolah menjadi saksi dari tekad yang mendidih dalam dadanya.

Sejak kecil, Syafi’i menapaki jejak para ulama dengan kaki telanjang dan perut lapar. Ia bangga dengan kemiskinannya, sebab ia meyakini bahwa hisab orang miskin lebih ringan. Ia belajar langsung kepada Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas.

Suatu hari, setelah menyimak pelajaran di majelis gurunya, Imam Syafi’i memberanikan diri bertanya, “Guru, siapakah yang Anda anggap sebanding dengan Anda dalam keilmuan?”

Imam Malik tersenyum tenang. “Dulu ada, Imam Abu Hanifah. Tapi beliau telah tiada. Namun, ia meninggalkan murid cemerlang: Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Kunjungilah dia di Kufah.”

Berangkatlah Syafi’i dalam perjalanan panjang menuju Kufah. Harapannya menggunung, membayangkan seorang alim zuhud seperti dirinya, dengan rumah sederhana dan jubah yang tambal-sulam.

Namun, harapannya buyar ketika ia tiba di rumah Hasan Asy-Syaibani. Rumah itu besar, luas, dan indah. Di ruang tamu, tuan rumah duduk di atas permadani, dikelilingi koin-koin emas yang sedang dihitung oleh para pelayan. Mata Syafi’i membelalak. Dalam hati ia bertanya, “Apakah ini rumah seorang ahli ilmu atau saudagar pasar?”

Dengan sopan, ia menyampaikan kekagetannya, “Wahai Hasan, bagaimana bisa seorang alim sepertimu hidup bergelimang harta begini?”

Hasan tertawa lembut dan menepuk pundak tamunya. “Wahai Syafi’i, jika harta tidak pantas berada di tangan orang alim dan bertakwa, lalu kepada siapa ia harus diserahkan? Apakah engkau lebih rela melihatnya di tangan penjudi, pezina, atau perampok negara?”

Syafi’i terdiam.

Hasan melanjutkan, “Bukankah lebih baik harta di tangan mereka yang mengenal halal dan haram, yang tahu zakat dan sedekah, yang membangun sekolah daripada istana, rumah yatim daripada rumah dansa?”

Syafi’i menunduk. Kata-kata itu menghunjam jiwanya. Pikirannya meletup. Selama ini ia memuliakan kemiskinan, seolah-olah ia suci karenanya. Tapi ia lupa bahwa kekayaan di tangan orang saleh adalah berkah yang bisa menyelamatkan umat.

Sejak peristiwa itu, pandangan Imam Syafi’i berubah drastis. Ia bahkan pernah berkata dengan tegas, “Barang siapa seorang alim dan muslim, namun tidak memiliki harta, maka haram hukumnya.”

Mengapa? Karena tanpa harta, seorang alim akan terhina. Ilmunya tak bisa berkembang. Dakwahnya lumpuh. Marwahnya mudah dijual. Dan jika dunia hanya dikuasai oleh orang fasik, maka kerusakan bukan hanya mungkin, tetapi pasti terjadi.

Kisah ini menjadi pelajaran penting bagi siapa pun yang berjuang di jalan ilmu dan iman. Bahwa kefakiran bukan tujuan, melainkan ujian. Namun, kekayaan di tangan orang beriman adalah senjata.

Harta bukan musuh iman. Ia hanya alat. Di tangan yang tepat, ia membangun peradaban. Di tangan yang salah, ia menghancurkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Semua Harus Jadi Tanggung Jawabmu: Cerita dari Seorang yang Capek Sendirian

Pernah merasa semua orang di sekitarmu gak becus?? Bahkan pasangan, anak, atau rekan kerja yang seharusnya bisa diandalkan, malah bikin ke...