Senin, 18 Agustus 2025

Ketika Logika Dipakai Buat Ngejek Tuhan: Antara Ilmu Kosmologi dan Kebencian yang Dikorupsi

Ketika Logika Dipakai Buat Ngejek Tuhan: Antara Ilmu Kosmologi dan Kebencian yang Dikorupsi

Di zaman internet serba bebas ini, semua orang berhak bersuara. Tapi anehnya, kebebasan itu sering berubah jadi senjata untuk menghina yang diyakini orang lain, menistakan yang dianggap suci, dan meremehkan warisan spiritual yang dijunjung tinggi. Lihat saja unggahan-unggahan yang menyandingkan usia alam semesta—13,7 miliar tahun versi kosmologi—dengan kalender Islam tahun 1446 Hijriyah, lalu menuduh ajaran Islam sebagai “dongeng dobol arabies”.

Lucu? Jelas tidak.
Ilmiah? Sama sekali bukan.
Bodoh? Mungkin.
Berbahaya? Sudah pasti.

Antara Sains dan Iman: Bukan Musuh, Tapi Saudara

Mari bicara jernih. Sains, lewat teori Big Bang, memperkirakan alam semesta berumur 13,7 miliar tahun. Apakah itu menabrak agama? Tidak juga. Islam tidak pernah mengklaim bahwa dunia baru berusia 1446 tahun. Angka itu hanyalah penanda perjalanan sejak hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ—bukan usia bumi, apalagi alam semesta.

Coba bayangkan, seseorang berkata: “Manusia sudah ada sejak ribuan tahun, tapi kalender Jawa baru 1958.” Lalu ia tertawa sambil mencemooh kalender Jawa sebagai “dongeng kebo gundul nusantaries”. Lucu? Tentu saja tidak. Yang ada malah memperlihatkan dangkalnya pemahaman.

Postingan yang Menghina Akal, Merendahkan Martabat

Ketika ada yang menyebut Tuhan “ngibul”, menyamakan ajaran Islam dengan “dongeng dobol”, lalu mengejek Arab sebagai sumber segala kebodohan, itu bukan satire, itu penistaan. Itu rasisme dan ujaran kebencian yang hanya dibungkus lelucon murahan. Memangnya Islam itu Arab? Tidak. Arab bukan Islam, dan mayoritas Muslim di dunia bahkan bukan orang Arab. Cara berpikir seperti ini hanya menambah sekat dan memperuncing prasangka.

Logika Palsu: Ilmu Dijadikan Senjata Kebencian

Sains seharusnya jadi jembatan untuk mengenal ciptaan, bukan alat untuk menyerang Sang Pencipta. Ketika ilmu pengetahuan dipakai untuk menghina agama, sesungguhnya yang rusak bukan doktrin, tapi nurani si pelaku. Sains tidak pernah mengajarkan untuk merendahkan keyakinan orang lain, apalagi agama yang diyakini miliaran manusia.

Kita Tidak Marah, Tapi Tak Akan Diam

Menanggapi hinaan dengan hinaan hanya akan melanggengkan lingkaran kegelapan. Islam mengajarkan sabar, tapi kesabaran bukan alasan untuk membiarkan penistaan berlangsung tanpa suara. Umat yang diam saat Tuhannya dihina, pelan-pelan kehilangan harga diri. Maka, suara yang lantang untuk membela kehormatan keyakinan adalah bagian dari iman.

Kebebasan Bukan Kebablasan

Kebebasan berekspresi memang hak, tapi ia juga punya batas. Di negeri ini, menebar kebencian dan menghina agama jelas ada konsekuensi hukumnya. Bahkan konstitusi menegaskan bahwa agama adalah bagian dari hak dasar yang harus dijaga. Kalau semua yang sakral dipermainkan, jangan salahkan jika kelak yang dianggap lucu berubah jadi urusan hukum.

Akhirnya…

Jangan merasa jadi intelektual hanya karena mampu menghina keyakinan orang lain. Itu bukan tanda cerdas, melainkan sinyal bahwa ia sedang membangun istana ego di atas pasir kebodohan. Akal sehat tahu: iman bukan untuk diejek, melainkan untuk dipahami. Ilmu bukan untuk merendahkan Tuhan, tapi untuk mengenal-Nya lebih dalam.

Karena tak ada cahaya yang lahir dari hati penuh caci.
Dan tak ada kemajuan dari logika yang dikuasai kebencian.

Alam semesta mungkin berusia 13,7 miliar tahun,
tapi iman yang kokoh tak lekang oleh zaman.

#JagaAkal #JagaIman #LawanPenodaanAgama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Semua Harus Jadi Tanggung Jawabmu: Cerita dari Seorang yang Capek Sendirian

Pernah merasa semua orang di sekitarmu gak becus?? Bahkan pasangan, anak, atau rekan kerja yang seharusnya bisa diandalkan, malah bikin ke...