Kisah Adam dan Hawa dalam Perspektif Perbandingan: Menyatukan, Bukan Memecah
Oleh: Abi Wayka
Beberapa tahun terakhir ini, media sosial dipenuhi dengan pembahasan seputar kesamaan antara cerita Adam dan Hawa dalam kitab-kitab samawi dengan cerita serupa dalam literatur Hindu di sini termasuk Bhavishya Purana. Bahkan sebagian kelompok menyatakan bahwa cerita Adam dan Hawa itu merupakan “jiplakan” dari cerita Hindu.
Kita semua menyadari bahwa kisah tentang manusia pertama, pohon larangan, dan pengusiran dari taman suci merupakan cerita yang sangat mendalam dan mengandung pelajaran spiritual besar. Dalam Islam, kisah Adam dan Hawa bukan hanya soal penciptaan, tapi tentang fitrah manusia, ujian, dan pertobatan. Dalam tradisi Hindu, ada pula kisah Manu dan Shatarupa, atau lebih modern lagi, Rsi Adama dan Havyavati dalam Bhavishya Purana, yang juga menyampaikan pesan moral dan spiritual.
Namun perlu diketahui secara ilmiah dan jujur, bahwa kisah Adam dan Hawa sudah tertulis dalam Kitab Kejadian (Genesis) ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum bagian Bhavishya Purana yang memuat cerita Adama dan Havyavati ditulis. Bahkan, bagian Bhavishya Purana tersebut baru ditulis atau ditambahi pada abad ke-18 hingga ke-19, dalam konteks interaksi budaya India dengan dunia luar seperti Kristen, Islam, dan kolonial Inggris.
Keranasanya menarik kita mencatat bahawa dalam Bhavishya Purana versi terkini itu, nabi Adama dibuat oleh Tuhan, isterinya dibuat dari tulang rusuk Adama itu sendiri, tinggal di taman bernama Pradan, terdapat hukum larangan supaya tidak makan daun pohon dosa, serta digoda oleh Kali Purusa dalam bentuk ular. Semua ini mirip sekali dengan kisah Adam dan Hawa dalam Islam dan Kristen. Tetapi apakah kemiripan itu terutama menimbulkan penyalinan? Tidak selalu. Banyak cerita di planet ini terdapat pola yang sama karena manusia di berbagai belahan Bumi bertanya tentang asal kehidupan ini, maksud hidup ini, serta pertarungan antara kebaikan vs kejahatan itu. Dan itulah yang disebut oleh para ahli sebagai “mitos universal” atau “narasi arketipal”.
Menjadikan kemiripan cerita sebagai dasar untuk mengejek agama lain atau mengklaim satu agama lebih asli dari yang lain adalah tindakan yang sempit dan tidak produktif. Kita hidup di era global, di mana penting untuk membuka ruang dialog antar agama, bukan memperuncing perbedaan.
Sebagai orang beragama, saya memandang bahwa tujuan utama kisah Adam dan Hawa, maupun kisah serupa dalam tradisi lainnya, adalah agar kita belajar tentang ketaatan, tanggung jawab, dan kasih Tuhan kepada makhluk-Nya. Fokusnya bukan pada siapa duluan, tetapi apa pelajaran yang bisa kita ambil bersama.
Di dalam Islam, kita belajar Allah menciptakan manusia bangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (Al-Hujurat: 13), bukan saling mencaci.
Akhir kata, semoga kisah-kisah luhur ini tidak dijadikan bahan perpecahan, melainkan dijadikan sarana saling memahami dan memperkaya kebijaksanaan lintas agama. Karena dalam setiap agama, selalu ada cahaya kebenaran yang mengajarkan kita untuk saling menghormati dan hidup damai di bumi Tuhan yang satu ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar