Manusia pandai menenun janji dengan benang kata yang gemerlap tentang cinta tanpa batas,
tentang niat yang konon bersih,
tentang setia yang katanya abadi sepanjang napas dan musim.
Mereka fasih melukis harapan
di langit-langit percakapan,
menyulam rencana indah
yang mekar di bibir,
namun gugur sebelum sempat tumbuh
di tapak perjalanan.
Lidah bisa menari indah,
mengumandangkan “ikhlas”
tanpa pernah mengenal sepi kehilangan;
melafalkan “setia”
tanpa diuji angin dan gelombang.
Namun waktu—
diam-diam ia menulis riwayat,
bisu tapi teliti mencatat
segala yang tak terucap.
Waktu tahu siapa yang bertahan
di kala cahaya redup,
siapa yang tetap menggenggam
saat tepuk tangan hilang
dan sorot mata padam.
Ia saksikan kejujuran
bukan dari manisnya kata,
tapi dari langkah yang tak berpaling
meski digerus musim,
dari hati yang tetap tinggal
saat dunia berlalu.
Pada akhirnya,
waktu akan menyingkap tabir
yang dibangun lidah dan rupa—
karena hanya ia
yang tak pernah bisa dibohongi,
dan hanya ia
yang setia pada kebenaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar