Aku adalah Dia

 Aku adalah Dia, sebagaimana engkau adalah Dia; engkau adalah aku, dan kita semua adalah Dia.

Di lautan wujud, tiada ombak berdiri sendiri;
kita hanyalah riak yang menyingkap air yang satu.
Nama-nama kita berbeda, rupa kita beraneka,
namun sumber hidup kita tetap satu: Nafas Yang Maha Menghidupkan.

Saat engkau memandangku, engkau sedang menatap cermin-Nya.
Saat aku memandangmu, aku pun menatap cermin-Nya.
Tiada “aku”, tiada “engkau”—yang ada hanya Dia;
kita hanyalah bayang-bayang-Nya, menari dalam cahaya-Nya.

Dan ketika riak-riak itu kembali tenang,
air menampakkan dirinya apa adanya: Esa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Semua Harus Jadi Tanggung Jawabmu: Cerita dari Seorang yang Capek Sendirian

Sunnatullah sebagai Prinsip Kausalitas dalam Kehidupan Manusia: Perspektif Islam