Senin, 18 Agustus 2025

Jangan Pikirkan Tuhan: Ziarah Akal di Tepi Misteri

 Jangan Pikirkan Tuhan: Ziarah Akal di Tepi Misteri

Ada sungai yang mengalir dari mata hati menuju lautan pengetahuan. Islam mengajarkan kita mengarungi sungai itu dengan perahu akal—menyusuri derasnya pertanyaan, membaca riak-riak hikmah, menatap langit yang memantulkan cahaya-Nya. Namun di muara sungai itu terbentang samudera tak bertepi. Samudera itu bernama Dzat Allah—dan di sana, perahu kita tak lagi bisa berlayar.

Al-Qur’an berkali-kali memanggil kita:
“Afala ta‘qilun?”—Tidakkah kalian menggunakan akal?
“Afala tatafakkarun?”—Tidakkah kalian berpikir?

Ini bukan sekadar perintah, melainkan kebangkitan rasa ingin tahu yang murni. Seakan Allah berfirman: “Lihatlah tanda-tanda-Ku. Bacalah ayat-ayat-Ku di bumi dan di langit. Genggam pengetahuan, dan biarkan ia menuntunmu kepada-Ku.”

Dalam hikmah yang masyhur di kalangan ulama:
“Tafakkaru fi khalqillah wa la tafakkaru fi dzatih.”
Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan janganlah kalian berpikir tentang Dzat-Nya.

Akal laksana burung yang terbang tinggi; tetapi ada ketinggian di mana sayapnya terbakar oleh cahaya. Allah memberi akal ladang yang luas: perputaran bintang, hukum yang menundukkan air dan api, keselarasan kehidupan, sejarah manusia. Setiap penemuan adalah undangan untuk bersujud dalam takjub.

Namun ketika akal mencoba menembus hijab Dzat, ia tersesat di kabut tak berujung. Bagaimana secangkir air memuat seluruh samudera? Bagaimana mata kecil menatap Matahari tanpa silau? Misteri itu bukan untuk diuraikan, melainkan dihormati.

Maka berpikirlah sepuasnya tentang:

  • Perintah-Nya, agar hikmah-Nya tersingkap.
  • Ciptaan-Nya, agar kebesaran-Nya terpuji.
  • Jalan menuju-Nya, agar langkahmu terarah.

Tetapi tundukkan kepala ketika tiba di tepi misteri suci itu. Jangan mengurung Allah dalam kata-kata; bahasa hanyalah jendela kecil, sedangkan Dia seluas cakrawala.

Akal adalah pelita. Biarkan ia menerangi jalan, jangan diarahkan tepat ke Matahari—Sumber segala cahaya. Cukup nikmati pantulannya di air, rasakan hangatnya di kulit, saksikan bagaimana ia menghidupkan dunia.

Itulah ziarah akal: berjalan sejauh mungkin, lalu bersujud ketika cahaya menjadi terlalu silau untuk dipandang. Di sanalah ilmu berhenti, dan cinta mulai berbicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Semua Harus Jadi Tanggung Jawabmu: Cerita dari Seorang yang Capek Sendirian

Pernah merasa semua orang di sekitarmu gak becus?? Bahkan pasangan, anak, atau rekan kerja yang seharusnya bisa diandalkan, malah bikin ke...